SUMENEP – Madura Culture Festival (MCF) 2025 yang digadang sebagai etalase kebudayaan terbesar di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, justru diwarnai isu tak sedap. Sejumlah kalangan menuding adanya bancakan dana hingga praktik jual-beli stand yang menyeret nama Sugeng, salah seorang komisioner Baznas Sumenep.
Dugaan itu mengemuka dari rangkuman Pesan Berita yang menyebut sedikitnya ada tiga sumber dana bermasalah. Pertama, alokasi APBD Sumenep 2025 sebesar Rp310 juta, di mana Rp200 juta untuk MCF. Kedua, praktik jual-beli stand dengan tarif Rp800 ribu hingga Rp3 juta, yang berpotensi menghasilkan Rp219 juta. Ketiga, iuran pabrik rokok senilai Rp3 juta per pabrik, meski akhirnya hanya Rp40 juta yang masuk.
Jika ditotal, potensi dana yang dipersoalkan bisa menembus Rp739 juta, bahkan disebut mendekati Rp1 miliar bila ditambah sponsor dari sejumlah lembaga dan perusahaan.
Menanggapi tudingan itu, Sugeng membantah keras. Ia menegaskan hanya bertindak sebagai pelaksana event MCF dan pameran pembangunan, bukan pengendali seluruh kegiatan.
“Tidak benar kalau saya disebut mengendalikan semua. Event itu ada panitianya masing-masing. Saya hanya pegang Madura Kultur dan pameran,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (12/9).
Sugeng juga menolak tudingan adanya dana iuran rokok yang masuk ke rekening pribadinya. Menurutnya, justru paguyuban rokok menanggung biaya hiburan, panggung, dan tenda secara mandiri.
“Kalau disebut sampai Rp1 miliar, itu bohong,” tegasnya.
Terkait praktik jual-beli stand, Sugeng mengaku ada beragam kategori biaya, mulai Rp350 ribu untuk UMKM. Ia beralasan, tarif tersebut digunakan untuk menutup biaya keamanan dan kebersihan. Sponsor, kata dia, juga tidak sebesar yang dituduhkan.
Sugeng menegaskan statusnya sebagai komisioner Baznas tidak mengganggu perannya sebagai EO, sebab ia telah lama bergelut di bidang event sejak 2015. Ia juga memastikan laporan pertanggungjawaban (SPJ) kegiatan sudah diserahkan, sehingga pencairan dana dari pemerintah berjalan sesuai prosedur.
Meski bantahan sudah dilontarkan, silang klaim mengenai MCF 2025 belum sepenuhnya menjawab keraguan publik. Pertanyaan masih menggantung: apakah festival budaya ini benar-benar ruang apresiasi seni, atau justru ajang bancakan segelintir pihak.
Penulis : Novalia Ayu Nur Syafitri
Editor : Wasilatil Maghfirah
Sumber Berita: Redaksi






