Setiap senja adalah pengingat bahwa segala yang indah pun memiliki akhirnya. Warna jingga yang membakar langit hanya singgah sebentar, lalu perlahan ditelan gelap. Dalam hidup, kita sering mendapati diri berdiri di ambang seperti itu—menyaksikan sesuatu yang pernah kita genggam pergi, dan menyisakan ruang kosong yang tak tahu harus diisi dengan apa. “Senja yang Tak Pulang” adalah meditasi tentang kehilangan, rindu yang tak menemukan rumah, dan pertanyaan-pertanyaan batin yang kita simpan sendiri dalam diam. Ini adalah kisah tentang hati yang pernah hangat namun kini hanya bayangan.
Di ambang senja aku berdiri,
Menatap langit yang dulu kau sukai.
Warnanya masih sama,
Tapi tanpamu, semuanya berubah.
Langkahmu telah lama pergi,
Meninggalkan jejak yang tak bisa ku hapus.
Aku menunggu, seperti malam menanti pagi,
Dengan hati yang semakin rapuh.
Kata tak lagi punya arti,
Sejak suaramu hilang dalam sunyi.
Segala tawa jadi luka berdarah,
Kenangan jadi jerat yang parah.
Kau tahu?
Rinduku tak tahu kemana harus pulang,
Sebab rumahnya telah kau bawa bersama kepergian.
Kini aku hanya bayangan,
Berjalan dalam hidup yang hampa dan diam.
Mungkin pada akhirnya, rindu bukanlah tentang menunggu kepulangan orang lain, melainkan tentang menemukan jalan pulang ke dalam diri sendiri. Dalam kehilangan, kita belajar bahwa senja tak pernah benar-benar pergi—ia hanya bersembunyi di balik malam, menunggu untuk kembali esok hari. Begitu juga dengan kita; meski hampa, kita tetap berjalan, membawa sisa-sisa cahaya dari mereka yang pernah kita cintai. Sebab, barangkali yang kita cari bukanlah kepulangan mereka, tapi kepulangan hati kita sendiri yang tersesat bersama perginya mereka.
SESET : Nama pena dari Ajeng Ayuningtias Putri berasal dari kepulauan Masalembu. sekarang aktif di UKM SANGGAR DHEMAR UNIBA MADURA. Konsisten menulis puisi sejak tahun 2023.
Penulis : Seset
Editor : Soemarda Paranggana
Sumber Berita: Redaksi






