SUMENEP – Di tengah tantangan geografis dan minimnya akses infrastruktur keuangan di wilayah kepulauan, Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) Bhakti Sumekar terus memainkan peran strategis dalam memperluas jangkauan layanan keuangan syariah yang inklusif. Salah satu contohnya terlihat dari keberadaan Kantor Cabang Giligenting, yang menjadi ujung tombak layanan perbankan di wilayah terpencil Kabupaten Sumenep.
Sebagai lembaga milik Pemerintah Daerah, BPRS Bhakti Sumekar tidak sekadar hadir untuk melayani transaksi, melainkan juga aktif mendorong pemberdayaan ekonomi dan literasi keuangan masyarakat kepulauan.
Kepala Cabang BPRS Bhakti Sumekar Giligenting, Dwi Jatmiko Effendi, mengatakan bahwa produk pembiayaan untuk nelayan dan pelaku usaha mikro, serta program tabungan pelajar KEJAR (Satu Rekening Satu Pelajar), menjadi dua pilar utama dalam strategi inklusi keuangan yang dijalankan bank ini.
“Fokus kami bukan hanya mendekatkan layanan, tetapi juga mendekatkan kepercayaan dan harapan kepada masyarakat bahwa mereka berhak atas akses keuangan yang adil, aman, dan sesuai prinsip syariah,” ungkap Dwi Jatmiko Effendi.
Di sisi lain, digitalisasi juga menjadi langkah terobosan. Melalui aplikasi BBS Mobile dan fitur ATM Cardless, BPRS Bhakti Sumekar memberikan kemudahan transaksi, meski wilayah kepulauan masih menghadapi tantangan dalam hal listrik dan jaringan internet.
“Meski terkendala infrastruktur, kami tetap berinovasi agar layanan tetap bisa diakses oleh masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota,” imbuh Dwi.
Salah satu nasabah, Nadia Agustina, warga Desa Bringsang, mengaku nyaman menjadi nasabah sejak duduk di bangku MTs. “Saya merasa lebih tenang menabung di BPRS. Aman, tanpa biaya administrasi, dan pelayanannya ramah,” tuturnya.
Direktur Utama BPRS Bhakti Sumekar, H. Hairil Fajar, menegaskan bahwa kehadiran bank ini di wilayah kepulauan bukan hanya tentang ekspansi layanan, tetapi juga merupakan wujud tanggung jawab sosial dan pembangunan ekonomi berbasis syariah.
“BPRS Bhakti Sumekar bukan sekadar institusi keuangan, tetapi mitra masyarakat dalam membangun peradaban ekonomi yang berkeadilan. Giligenting adalah bukti nyata bahwa inklusi keuangan syariah bisa hadir hingga ke ujung negeri,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya akan terus bersinergi dengan para pemangku kepentingan lokal, mulai dari pemerintah desa, sekolah, hingga komunitas pelaku usaha, guna memperkuat ekosistem ekonomi syariah yang berkelanjutan.
“Kami tidak ingin sekadar hadir—kami ingin benar-benar dirasakan. Ke depan, kami akan mendorong lebih banyak inisiatif berbasis digital, pelatihan keuangan, dan program pembiayaan yang tepat sasaran,” pungkas Hairil Fajar.
Penulis : Novalia Ayu Nur Syafitri
Editor : Wasilatil Maghfirah
Sumber Berita: Redaksi






