SUMENEP – Samsiyadi bukanlah nama asing bagi masyarakat Kabupaten Sumenep. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin bersahaja, teguh memegang prinsip, dan konsisten dalam pengabdian. Saat ini, ia menjabat sebagai Kasatkocab Banser Sumenepdan anggota DPRD Kabupaten Sumenep dari Fraksi Partai NasDem, dengan amanah tambahan sebagai Sekretaris Fraksi.
Sebelum terjun ke panggung politik, Samsiyadi telah membuktikan kapasitas kepemimpinannya sebagai Kepala Desa Karang Cempaka. Jabatan itu ia emban dengan penuh tanggung jawab, menjadi pondasi kuat dalam memahami langsung kebutuhan masyarakat dari lapisan terbawah. Tak heran, rekam jejak tersebut mengantarkannya meraih kepercayaan publik hingga ke kursi legislatif.
Namun, yang paling menonjol dari sosok Samsiyadi adalah kesetiaannya terhadap Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Meski kini menjabat sebagai anggota DPRD, ia tetap membawa perlengkapan lengkap Banser ke mana pun ia pergi—termasuk saat bertugas di kantor dewan
“Menjadi anggota dewan tidak pernah membuat saya lupa seragam dan identitas saya sebagai Banser. Di mana pun saya berada, termasuk di kantor DPRD, saya tetap membawa alat lengkap. Karena Banser bukan hanya organisasi, tapi jalan hidup,” ujar Samsiyadi pada Selasa (20/5/2025).
Dalam sebuah kesempatan, Samsiyadi juga mengungkapkan dimensi spiritual dari keterlibatannya di Banser.
“Sebagai orang yang berniat untuk nyantri kepada para kiai dengan penuh kekurangan, saya menempatkan diri di Banser. Di samping itu, saya menyesuaikan SDM yang saya miliki. Banyak hal yang saya dapatkan di Banser—termasuk disiplin, sabar, dan ikhlas.” Ucapnya.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Banser bagi Samsiyadi bukan sekadar wadah organisasi, melainkan madrasah kehidupan—tempat menempah karakter, spiritualitas, serta memperkuat kedekatan dengan para ulama dan masyarakat.
Ia dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan penanganan bencana. Dari apel siaga, pelatihan kader, hingga terjun langsung membantu masyarakat saat krisis, Samsiyadi hadir tanpa banyak kata—melainkan dengan tindakan nyata. Jiwa militansinya dan semangat kebersamaan menjadikannya panutan, tidak hanya di kalangan pemuda Nahdliyin, tetapi juga di masyarakat luas.
Sebagai politisi, ia tetap sederhana, membumi, dan tidak terjebak dalam formalitas kekuasaan. Kepemimpinannya menunjukkan bahwa menjadi pejabat publik tidak harus meninggalkan akar perjuangan. Justru, jabatan adalah sarana untuk memperjuangkan nilai-nilai luhur—dengan disiplin, kesabaran, dan keikhlasan yang ia pelajari dari Banser.
Penulis : Novalia Ayu Nur Syafitri
Editor : Wasilatil Maghfirah
Sumber Berita: Redaksi






